Selasa, 24 Oktober 2017

5 Fakta Kids Jaman Now - Nomor 4 Ortu Wajib Baca!


Polah tingkah anak dan remaja masa kini selalu menarik untuk disorot. Perkembangan zaman selalu membawa perubahan, dan setiap perubahan pasti memberi rasa tidak nyaman atau tidak aman--at least pada awalnya, sebelum kita beradaptasi. Hal ini pula yang terjadi ketika "kita" yang sudah melewati masa kanak-kanak dan remaja, melihat generasi berikutnya.

Kali ini, saya mau paparkan 5 fakta soal kids jaman now. Fakta yang selama ini belum banyak dibahas, malah mungkin belum disadari.
Read through, and feel free to share if you you want to...

Fakta #1: Masih sama seperti yang dulu
Yup. Fakta pertama yang saya sebut ini mungkin bikin alis berkenyit atau kepala otomatis menggeleng. Karena hampir semua artikel yang saya temukan mengulas betapa BERBEDAnya generasi sekarang dengan masa-masa sebelumnya. Saya yakin, kebanyakan orang pun berpikir demikian.

Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, memang ada yang berubah--dampak dari perkembangan zaman. Tapi sebenarnya tidak semua hal berubah kok. Masih banyak kesamaan antara kids jaman now dengan kids jaman yesterday.
Saya yang lahir tahun '83 dan menginjak usia abege di era '90-an pernah melewati masa bandelnya remaja yang lekat dengan rokok, miras, narkoba, pornografi, peluk-kecup-raba saat pacaran, tawuran, bullying, dll. saya pernah jadi saksi, bahkan juga pelaku dari beberapa hal-hal ini. Bukan berarti saya nggak resah ketika menyaksikan kenakalan remaja masa kini. Sebagai ortu, pasti lah saya pinginnya anak-anak terhindar dari segala hal tersebut.

Bersikap antipati, membatasi, banyak melarang serta menyalahkan anak, menurut saya jelas bukan solusi. Kita sendiri juga nggak suka kan diperlakukan seperti itu dulu? Semakin dikekang malah cenderung membangkang. Kalau nggak percaya, nonton deh trailer film My Generation ini dan dengerin curhatan mereka ...




Fakta #2: Bisa 'dibaca' dari isi media sosialnya
Salah satu perbedaan utama antara kids jaman now dengan 'anak dulu' dipengaruhi oleh keberadaan media sosial. Kenapa kenakalan remaja yang saya sebutkan di poin pertama rasanya jauh lebih banyak dan lebih intens di masa sekarang adalah karena kini semuanya terpampang nyata melalui medsos.

Dulu pun sebenernya banyak yg gaya pacarannya parah, tapi tetap bikin meringis ketika foto-foto dan video mesum pelajar marak beredar di media sosial. Bullying yang kerap terjadi dulu berupa labrakan kakak kelas, sekarang cyber bullying yang paling sering dan gampang dilakukan; semua bisa menulis komentar kejam tanpa berpikir panjang.

Faktanya, saat ini karakter dan kepribadian anak/remaja bisa kita baca dengan cara mencermati media sosialnya. Dari situ kita bisa melihat interaksi sang anak, tingkat intelektualitas dan kecerdasan emosinya, kebiasaan-kebiasaan, hobi, minat, harapan, cita-cita, dan masih banyak lagi. Hal inilah yang dilakukan oleh mbak Upi sebagai riset untuk produksi film My Generation. Nggak tanggung-tanggung, sang sutradara menghabiskan waktu 2 tahun untuk observasi mendalam media sosial para generasi milenial. Hasilnya? Film yang benar-benar mengupas realita, bukan jual fantasi ataupun drama belaka.


Fakta #3: Bahasanya campur aduk
"Di film My Generation bahasanya campur aduk Indonesia-English, karena memang kenyataannya itu yang dilakukan anak-anak sekarang dalam keseharian," ungkap mbak Upi di sela-sela Press Conference film My Generation, Selasa 10 Oktober lalu. *jadi kalau nonton film ini, jangan kira penulis naskah atau sutradaranya sok keminggris ya, hehehe..


Hebatnya lagi, sebagian percakapan di naskah film My Generation itu dikutip dari media sosial maupun percakapan langsung para remaja. Hal ini juga diakui oleh pemain-pemain muda dalam film tsb. Saking real-nya, mereka berasa sedang ngobrol biasa dan bukan berperan dalam film. Mungkin karena hal ini juga, keempat pemain muda yang menjadi pemeran utama film My Generation yakni Bryan Langelo (berperan sebagai Zeke), Lutesha (sebagai Suki), Alexandra Kosasie (as Orly) dan Arya Vasco (sebagai Konji) bisa memainkan peran masing-masing dengan sangat baik. Mereka juga tidak canggung meski beradu akting dengan para senior di film ini, sebut saja di antaranya Tio Pakusadewo, Surya Saputra, Ira Wibowo, Joko Anwar, serta Aida Nurmala.


Fakta #4: Butuh "panggung"
Salah satu ciri generasi milenial adalah mereka butuh panggung. Itulah sebabnya di dunia profesional pun anak muda jaman sekarang lebih senang menjadi founder ketimbang jadi karyawan. Hal ini dipaparkan oleh Ivan Ahda S.Psi M.Si, CEO Maxima Indonesia, pada One Day Seminar bertajuk "Working With Millenials Generation" 16 September yang sempat saya hadiri.

Kalau menurut Abraham Maslow dalam Teori Hierarki Kebutuhan: aktualisasi diri (self actualization) menempati posisi ke-5 yakni setelah kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, serta kebutuhan untuk dihargai. Namun faktanya bagi anak-anak jaman sekarang, aktualisasi diri dianggap sama pentingnya dengan kebutuhan fisiologis seperti sandang, pangan, atau papan. Mereka sangat butuh eksis, mereka perlu 'panggung', dan media sosial adalah yang paling sederhana untuk pemenuhan kebutuhan itu.


Lalu bagaimana peran ortu dalam pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri anak? Menurut saya, yang paling utama adalah kita harus belajar utk MENDENGARKAN. Listen--bukan cuma hear. Hear itu mendengar, menggunakan telinga (ear); sementara Listen artinya mendengarkan dan menyimak, menggunakan seluruh indera. Jangan melulu hanya menuntut anak untuk mendengarkan dan mematuhi kita. Sebaliknya, kita sebagai ortu mesti belajar mendengarkan ucapan/pendapat anak. Berikan kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan pendapat dan menampilkan kemampuannya, mengembangkan diri sesuai passion-nya. Itulah "panggung" yang bisa kita sediakan bagi mereka.


Fakta #5: Penentu masa depan
Well, suka tidak suka, setuju nggak setuju, kenyataannya masa depan kita terletak pada tangan anak-anak dan remaja masa kini. Melabeli kids jaman now sebagai alay, generasi micin, nggak punya etika, dan lain sebagainya--sama saja dengan meyakini masa depan yang suram. STOP IT! Jika kita melihat ada yang tak beres dengan anak/remaja masa kini, maka kita yang dewasa harus lebih bijaksana memberi bimbingan dan teladan.

Film My Generation produksi IFI Sinema bisa jadi salah satu media pembelajaran bagi orangtua mengenai karakter anak/remaja masa kini. Tayang di bioskop mulai 9 November 2017, saya pribadi merekomendasikan setiap orangtua yang merasa belum sempurna untuk menontonnya. Bahkan lebih baik lagi jika bisa menontonnya dengan anak yang sudah remaja.


11 komentar:

Tian Lustiana mengatakan...

Penasaran banget sama film ini, pengen cepet2 tayang

Yayu Arundina mengatakan...

Wah faktanya keren. Ada gak yah di filmnya. Jd pengen nonton

phadli antonio mengatakan...

menafsir film dan kondisi remaja jaman sekarang. kayaknya remaja perkotaan bisa menjadi gambaran dalam film ini ya. Tampaknya bagus ditonton anak remaja nih dan sekaligus ortunya nih

Yelli Sustarina mengatakan...

Iya, para orang tua harus menonton film ini supaya mereka bisa belajar menghadapi kids jaman now.

Ria Bilqis mengatakan...

Poin 4 bener banget butuh eksis ya, untuk menyalurkan Bakan dan minat Kids Zaman Now. Bagus sih daripada mereka melakukan kegiatan negatif, mendingan eksis positif .

Indrifairy Isharyanti mengatakan...

Point-point diatas sebenarnya juga penting semua utk kita agar lebih aware sebagai orangtua

Leyla Hana mengatakan...

Hmm.. saya dulu anak yg banyak dilarang2 sama orangtua tapi Alhamdulillah gak macam2. Pendekatan agama juga mesti diperkuat karena pengalaman saya ya takut kepada Tuhan itu yg membuat saya tidak berani macam-macam.

Dewi Nuryanti mengatakan...

Sebenarnya tingkah laku remaja yg seenaknya aja (kesannya),sdh ada sejak dulu namun krn zaman semakin maju, kids zaman now dpt lebih terpantau pergaulannya sebenarnya lewat akun sosmednya tp sayangnya tdk semua org tua pun paham mengenai hal ini. Pergaulan kid zaman now lebih luas krn efek gadget dan ini yg sering bikin pening Mamak2.

Anisa Deasty Malela mengatakan...

Anak butuh panggung untuk unjuk diri dan show up atau pamer,, dengan begitu eksistensi dirinya bisa tersalurkan ya mba.

Tika mengatakan...

Betul banget ya point 4. Meskipun belum memiliki anak tetapi secara pengamatan untuk generasi digital saat ini sudah tergambar pola pikirnya. Just listen to children. And than how to protected.

Riski Fitriasari mengatakan...

Semoga banyak orang tua yang ikut nonton film ini ya Kak, sehingga pesan buat ortunya mengena.. ^_^

Posting Komentar

Sudah baca artikel ini? Tinggalkan komentar ya... Thanks!