Senin, 13 Oktober 2014

Alokasi Tepat Pendapatan Keluarga

Sering merasa gaji cuma 'numpang lewat' di rekening? Tak perlu galau, resah, dan  gelisah. Sebenarnya hal itu justru positif kok! ASALKAN, gaji atau pendapatan tersebut disalurkan pada pos-pos yang tepat. Terlebih lagi bagi kita yang telah berkeluarga, sangatlah penting mengalokasikan dana secara tepat sesuai prioritas.

source: www.brighterlife.co.id



Sebagai panduan umum, inilah alokasi ideal pendapatan bulanan keluarga:

40%  Pos Pengeluaran Rutin
Merupakan pos untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, biaya listrik dan air, biaya komunikasi (pulsa telepon dan internet), ongkos transportasi untuk bekerja dan sekolah, sampai uang jajan anak. Meskipun alokasi bujet untuk pos ini adalah yang paling tinggi, namun sebenarnya termasuk kategori flexible spending yang masih bisa kita atur.  

20% Pos Kewajiban Finansial (Cicilan)
Cicilan rumah, cicilan kendaraan, cicilan barang elektronik, sampai utang kartu kredit--semua masuk ke pos kewajiban finansial. Pos ini harus diprioritaskan, dan nominalnya cenderung fixed alias nggak bisa diutak-atik. Pastikan total pengeluaran kita dari pos ini nggak lebih dari 30%, karena bisa mengganggu cash flow rumah tangga.

10% Pos Gaya Hidup
Cermat mengelola keuangan bukan berarti kita tak boleh menggunakan uang untuk 'senang-senang' loh! Jalan-jalan bareng keluarga, nonton bioskop, makan di restoran favorit, ataupun memanjakan diri di salon; adalah beberapa contoh pengeluaran yang masuk ke pos gaya hidup. Nilai 10% dari pendapatan mungkin terasa agak kecil yah. Akan tetapi yakinlah bahwa kemampuan kita menahan keinginan (wants) demi memenuhi kebutuhan (needs) pada akhirnya akan berbuah manis. Pos ini sangat fleksibel, namun disarankan nilainya tak melebihi 15% dari pendapatan bulanan. Sebaiknya saat kita butuh anggaran yang lebih besar dalam pos ini, misalnya untuk liburan keluarga atau ingin membeli barang branded, kita mengurangi penggunaan pos gaya hidup selama beberapa waktu. Sehingga kita mendapatkan anggaran besar yang berasal dari akumulasi pos gaya hidup, tanpa mengganggu cash flow dan pos-pos pengeluaran lainnya.

:: source unknown, image beredar di Path ::


10% Pos Investasi
Pos ini sangat penting, karena menyangkut masa depan keluarga. Bisa berupa deposito, logam mulia, surat saham, tabungan pendidikan anak, sampai persiapan dana pensiun. Biasanya pos ini membutuhkan pertimbangan bahkan campur tangan penuh dari suami. Hal ini terkait dengan kecenderungan laki-laki lebih berani mengambil risiko investasi ketimbang perempuan (baca: 3 Fakta Finansial Perempuan Perlu Tahu).  

10% Pos Asuransi
Dalam buku The Seven Basic Quarrels of Marriage karya William Betcher, M. D dan Robbie Macauley, disebutkan bahwa salah satu kesalahan umum dalam manajemen finansial keluarga adalah kepala keluarga tidak memiliki asuransi jiwa. “Setiap kepala keluarga harus punya asuransi jiwa, dan sebaiknya membeli produk asuransi saat kepala keluarga dalam kondisi sehat dan prima. Jangan menunggu saat sakit, sebab nilai biaya yang harus dikeluarkan akan lebih besar,” ungkap Lynn Ballou, pakar keuangan asal California. Sedangkan untuk anak-anak, yang terbaik adalah memiliki asuransi kesehatan untuk meng-cover biaya pemeliharaan kesehatan mereka. Jika sampai saat ini keluarga Anda belum terproteksi dengan asuransi, saya sarankan segera menghubungi pihak-pihak jasa asuransi yang terpercaya seperti Sun Life Financial Indonesia.

5% Dana Darurat
Fungsi utama pos ini adalah untuk digunakan saat kondisi darurat seperti terkena musibah bencana alam, kehilangan pekerjaan (PHK), usaha bangkrut, dan lain sebagainya. Untuk keamanan finansial keluarga, besaran minimum pos ini adalah 3-6 bulan biaya hidup. 

5% Pos Sosial
Masih ada satu lagi pos penting yang perlu dialokasikan dari pendapatan keluarga, yakni pos sosial. Yang termasuk dalam pos ini contohnya biaya arisan keluarga, 'angpao' untuk acara pernikahan, kado ulangtahun teman anak-anak, membantu kerabat atau teman yang sedang kesulitan, juga uang santunan bagi yang membutuhkan. Jumlahnya memang tak pasti dalam setiap bulan, namun sebagai makhluk sosial--apalagi tinggal di negara Indonesia yang lekat dengan kekeluargaan, hal ini pasti tak terelakkan.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Sudah baca artikel keren ini!
MANTAP banget mak...!

Sonya Tampubolon mengatakan...

Makasih banyaaakkk mak Nurul @bukanbocahbiasa :)

nur chaerinia mengatakan...

wah banyak masukan .. 😊

Posting Komentar

Sudah baca artikel ini? Tinggalkan komentar ya... Thanks!