Sabtu, 25 Oktober 2014

Ajarkan Anak Soal Hedonisme

Selebrita memamerkan koleksi barang-barang bermerek dan mobil mewah, resepsi pernikahan amat glamor ditayangkan di televisi. Fenomena seperti ini saya tangkap sebagai simbol betapa hedonisme berada dalam masa jayanya di negeri ini. Banyak orang mungkin menganggap saya lebay, atau menyangka concern saya terhadap perilaku hedonisme tak lebih dari komentar sirik. Bukan, beneran deh bukan. Sebagai ibu dari 2 orang anak perempuan, saya hanya khawatir anak-anak saya nantinya memiliki pola pikir dan pola hidup yang salah: mengutamakan uang dan harta benda di atas segalanya. 



pernah membahas ini juga di akun Facebook saya.
Dengan perkembangan zaman yang seperti saat ini, saya jadi menyadari pentingnya mengajarkan anak soal hedonisme. Yang saya maksud tentu bukan mengajar anak untuk menganut hedonisme atau berperilaku hedon. Instead, saya bertekad agar sejak dini mendidik anak akan manfaat uang dan cara menghargai uang tanpa terjebak dalam pola pikir maupun pola hidup hedonisme. Mengajarkan bahwa uang bisa digunakan untuk bersenang-senang, tapi tak dapat membeli kebahagiaan.



Mengenalkan "kebutuhan" dan "keinginan
Shalom dan Glow memang masih balita, tapi saya mencoba nggak kalah dengan rengekan mereka saat memaksa membeli sesuatu. Ada saatnya saya 'royal' membelikan mereka jajanan atau mainan, yakni dalam waktu dan kesempatan tertentu. Misalnya saat piknik atau berlibur, atau memang sudah janji akan beli mainan tertentu. Tapi kalau sedang belanja bulanan, misalnya, maka yang dibeli adalah sesuai daftar belanja.

Khususnya pada Shalom (3,5 thn), saya mulai mengajarkan perbedaan antara barang apa yang benar-benar dia perlukan, dengan barang-barang yang dia sukai saja. "Pensil kakak masih banyak, jadi belum perlu beli yang baru. Nanti kalau sudah habis baru kita beli yang gambar Frozen ini. Kalau mau, beli penghapus saja yang gambar Frozen karena Shalom belum punya penghapus.." Kira-kira seperti itu kalimat yang saya lontarkan untuk mulai mengajarkan soal keinginan dan kebutuhan.


Mengenal harga dan nilai uang

Berhubung Shalom sudah mulai belajar angka-angka, saya bisa mulai mengenalkan soal harga padanya. Saya juga nggak segan bilang "kalau yang ini terlalu mahal. Yuk kita cari yang lebih murah" saat sedang berbelanja bersama anak. Beberapa kali juga saya menyebutkan nominal tertentu sebagai batas bagi anak berbelanja, seperti "Uang mama Rp 50,000. Kakak boleh ambil buku atau mainan apa saja di toko ini, asal uangnya cukup." Dengan antusias Shalom memilih barang yang dia sukai, kembali pada saya dan bertanya apakah uangnya cukup untuk membeli barang ini dan itu. Kadang dia harus membuat keputusan yang cukup 'berat' saat harus memilih di antara beberapa barang yang disukai. Tapi pada akhirnya dia belajar untuk menetapkan prioritas.



:: pic source ::
Menabung
Shalom dan Glow punya celengan, yang mereka isi dengan uang hasil pemberian orang, kado ulang tahun, atau sisa uang belanja yang saya berikan bagi mereka. Saat mereka bertambah besar nanti, saya dan suami juga berniat membuka rekening tabungan atas nama mereka masing-masing. Tentunya ini di luar tabungan pendidikan yang sudah kami sisihkan bagi mereka berdua. 

Have fun!

Buat saya, mengajarkan tentang uang bukan semata-mata tentang penghematan. Uang bisa *dan perlu!* digunakan untuk bersenang-senang juga. Saya ingin anak-anak saya mengerti dan merasakan hal tersebut pula. Contohnya saat perayaan anniversary saya dan suami, kami sekeluarga sempat menginap di hotel. Rupanya, pengalaman tersebut terasa menyenangkan sekali bagi Shalom. Beberapa kali dia meminta kembali menginap di hotel. Akhirnya hal tersebut saya jadikan semacam 'tujuan finansial' bagi Shalom. Dia makin semangat mengisi celengannya karena saya bilang kalau sudah terkumpul cukup uangnya maka kita bisa gunakan untuk menginap di hotel pada hari ulangtahunnya nanti. 

Tanggungjawab sosial
Satu lagi yang coba saya tanamkan sejak dini pada anak-anak saya adalah rasa tanggungjawab sosial. Saya katakan bahwa semua yang kita miliki adalah berkat dari Tuhan, maka kita tidak berhak untuk sombong ataupun pamer. Sebagai ucapan syukur pada Tuhan, kita harus menyisihkan sebagian uang dan harta kita bagi gereja, yakni untuk mendukung berbagai kegiatan positif yang memuliakan Tuhan. Selain itu, dengan memberikan sumbangan untuk membantu orang lain yang kurang mampu juga menyenangkan hati Tuhan. Bahwasanya hidup berbagi akan lebih indah ketimbang bergelimang harta.  

Menjadi teladan

Last but not least, dalam pengalaman saya yang masih sangat terbatas sebagai orangtua, satu hal yang saya yakini adalah bahwa anak-anak lebih cepat belajar dari apa yang mereka saksikan ketimbang apa yang dikatakan pada mereka. Children see, children do. Sehingga hal-hal yang saya sebutkan di atas harus terlebih dahulu saya praktikkan, supaya anak-anak melihat sendiri contoh yang nyata.  

13 komentar:

ynne mengatakan...

Saluuut dengan cara mengajari anak agar kelak tak larut dalam dunia hedonisme.

Sonya Tampubolon mengatakan...

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya mbak ynne :)

mej mengatakan...

Nice article sonya....

Sonya Tampubolon mengatakan...

Thank you @mej :)

Ada Prananta Wibowo mengatakan...

Luar biasa.. pasti sekolahnya sama ky gw 😁

Sonya Tampubolon mengatakan...

huahahahahh.. bisa nyasar sampe ke sini deh si @Ada :D jadi yang luar biasa sebenernya gua ato SD kita? :P makasih udah mampirrr

Mayya mengatakan...

setuju banget dengan tulisan mbak. Ide untuk anniversary ngajak keluarga ke hotel boleh juga tuuuh :)

Ruffie Lucretia mengatakan...

iya.. karena anak itu adalah sebuah mesin fotocopy raksaksa.. salah2 ngajari nanti anaknya pas tumbuh besar bisa tidak benar lagi.
mengajarinya dengan menabung merupakan salah satu contoh yang baik..

terus berjuang mengajarkan hal2 yang baik ya mak... XD
saya juga bakalan ajarin hana - chan buat nabung ahhh~~

Mutia Nurul Rahmah mengatakan...

teringat ortu..walau aku udh masuk 20..mereka masih nekankan jgn lihat hidup org2 yg hedon....jdi klo mau apa2 usaha duluu

Dewi Rieka mengatakan...

setuju banget mak postinganmu ini..syukaa...sekarang orang makin hedon, efek tv dan inet kali yaa

Dennise Sihombing mengatakan...

Son,sbg ibu wisenya kita seyogjanya jd role model utk anak2

pengertian HAM mengatakan...

Yipi! Setuju deh! Biar anak kita ndak salah dijalur yang mana, anggaplah kita sebagai pembatas jalan untuk melindungi, bukan membatasi, huhu

Salam,
Kesya.

lahiya mengatakan...

Yipiii, biar anak ndak terbawa arus ndak baik <3

Salam,
Gianta

Posting Komentar

Sudah baca artikel ini? Tinggalkan komentar ya... Thanks!