After blog-walking to several blogs, especially Indonesian fashion blogs that got famous globally, I notice something quite obvious: it's all WRITTEN IN ENGLISH. It doesn't take a genius to discover that if you want people from all around the world to read or see your blog, then you have to write in a global language: English.
So this gives me an idea to start a project called: "Written in English Project." Every month, I'll write 1 post (or more) that is written in English. The post can talk about anything, it's just have to be in English. This is challenging for me, yet very exciting. Please do not think that this project is about showcasing my English ability. Instead, this project would be my media to learn writing properly in English. Therefore, I will be happy to meet any of you "grammar-nazis" to give me critics and corrections. Haha.
'Till we meet again!
Senin, 03 Juni 2013
Kamis, 23 Mei 2013
Crown Crisis
Kalau rambut ini diibaratkan mahkota, maka mahkota saya sekarang lagi karatan dan keropos--memprihatinkan! Beneran deh ini nggak lebay. Jadi yah, saat ini rambut saya sedang mengalami kerontokan parah. Nyolong istilahnya mbak miund di salah satu blogpost: "berasa kaya abis dijambakin orang sekampung."
Penyebabnya? Tak lain dan tak bukan adalah ketidakseimbangan hormon karena saya sedang menyusui. Terima kasih banyak Tuhan, saya bisa menyusui Glow *walopun emang nggak ASIX, kenapa? baca sendiri di sini* tapi ya itu tadi, ternyata buat saya proses kasih nenen ini punya efek samping ke rambut. Huhuhu.
Solusi paling gampang dan efektif sih sbny ada, yakni potong rambut. Soalnya kan rambut rontok itu artinya rapuh, karena kurang nutrisi sehingga dari kulit kepala nggak nyampe ke ujung rambut. Nah kalo rambutnya lebih pendek, otomatis lebih cukup nutrisinya, lebih kuat dan berkurang rontoknya.
but I love my long hair... and I wanna keep it!
Selasa, 14 Mei 2013
Introducing: Ganlob(dot)com
Dari kicauan twitter seorang teman, saya mendapat informasi mengenai
kompetisi blog yang diadakan oleh media online terbaru buat pria, Ganlob(dot)com.
Sebagai banci kuis pencinta media online, saya langsung meluncur ke link
TKP yang dicantumkan dan menemukan detail persyaratan lomba blog yang dimaksud.
Setelah quick view lalu dilanjutkan membuka satu persatu kategori kontennya, inilah
Setelah quick view lalu dilanjutkan membuka satu persatu kategori kontennya, inilah
Ganlob.com menurut pandangan saya…
Jumat, 26 April 2013
The Break-up Attitude: Mars vs Venus
Venus: Sesaat setelah putus cinta, berusaha tetap tersenyum
Mars: Sesaat setelah putus cinta, memperlihatkan wajah kesal, marah, atau kecewa. Begitu sampai di rumah, masuk kamar lalu tidur.
Venus: Menelepon sahabat cewek, ajak ketemuan untuk curhat. "I need a shoulder to cry on..."
Mars: Menelepon teman-teman, ajak ketemuan untuk nongkrong. "I need to go out and chill!"
Venus: Makan cokelat dan es krim dengan impulsif, dengan alasan butuh mood-booster. Tapi kemudian berat badan naik, tambah depresi karena merasa jelek dan nggak bakal bisa dapat pacar baru.
Mars: Nge-gym dengan impulsif, awalnya dengan alasan untuk menyibukkan diri dan menghabiskan waktu. Tapi kemudian badan makin berbentuk dan keren, akhirnya bisa menggaet cewek sbg pacar baru.
Mars: Nge-gym dengan impulsif, awalnya dengan alasan untuk menyibukkan diri dan menghabiskan waktu. Tapi kemudian badan makin berbentuk dan keren, akhirnya bisa menggaet cewek sbg pacar baru.
Tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan wanita lho yaaa.. *yang nulis juga 100% cewek asli*
Dan saya tahu prinsipnya generalisasi itu nggak selalu tepat--jadi yang digambarin di sini cuma kondisi MAYORITAS atau pada umumnya aja; tentu di luar sana ada yang wanita & pria yang tidak seperti gambaran tsb. Anyway, the message is for ladies to act like a man after being dumped. Belajar untuk move-on ala pria seperti kata artikel di DailySylvia sini.
# Gimana? Setuju nggak? Tell me what you think or share your experience!
Rabu, 27 Maret 2013
Pancasila Kita-kita
“Hah? Pancasila?! Kayak anak SD mau upacara bendera!” Begitu tanggapan salah seorang sahabat saat saya katakan bahwa saya ingin menulis tentang Pancasila. Sepertinya bukan cuma sahabat saya yang berpikir demikian—bahwa Pancasila hanyalah sekadar ‘hafalan’ untuk anak sekolah.
![]() |
| :: Dok. Wikipedia :: |

